Photo Courtesy: jerany

Suatu hari nanti kau akan menikah dengan laki-laki baik. Bukan karena kau perempuan baik (sebab kau suka bilang kau bukan perempuan baik), tapi karena kau teman yang baik. Maka teman-temanmu akan mendoakannya bagimu dan Tuhan akan mengabulkannya.
Di pernikahanmu aku akan memakai gaunku yang terbaik. Bukan celana jeans dan sneakers. Bukan sesuatu yang kupakai karena tak punya pakaian lain. Tapi sesuatu yang telah kucari berminggu-minggu. Lalu aku akan berdandan yang manis. Bukan sekadar polesan lipstik dan eyeshadow seadanya. Kau tak pernah melihatku berdandan semanis itu sebelumnya.
Aku akan menuliskanmu sebuah sajak dan membacakannya sendiri. Sajak itu kelak kausimpan di laci kamar dan kautunjukkan pada anakmu saat dia remaja. Nanti aku pasti berharap kau menangis sedikit—tapi mungkin itu berarti aku teman yang egois karena pasti make-up-mu juga luntur sedikit.
Saat menyalamimu di pelaminan nanti, aku akan berbisik pada suamimu: jaga dia baik-baik. Sebab dia teman yang baik. Kata-kata yang sama dengan yang kubisikkan pada Tuhan. Telah kulakukan dari sekarang, meski tidak setiap hari.
Kau akan menjadi perempuan paling bahagia dengan kehidupan yang baik. Entah kapan, tapi akan.
____
Happy birthday, Ratna Susanti !! (:
Kita terus didorong hari-hari
sampai kepada pilihan yang sulit;
ke jalan beribu cabang,
ke belantara bayang-bayang
– di mana kenangan berwajah menyeramkan gemar menakut-nakuti di bawa sepi –
Lalu kita bersembunyi di balik semak-semak ketabahan,
bersembunyi sampai kita menjadi semakin kurus
sebab hanya bisa bertahan hidup
dengan mengunyah daun-daunnya.
Atau
Pada hendak kita akan tidur nyenyak
Ada wajah-wajah setengah lelap
Menguar plastik bekas
Menguar mimpi yang tak jua impas
Selalu merasa berhutang
Selalu merasa tak pantas
Padahal
Pada peraduan yang kita impikan
Tersemat igauan di bantal-bantal
Tentang luka dan bentol kecil karena gigitan serangga
Tentang gatal dan memar dicubiti kutu dan ngengat
Selalu
Adalah keluh
Adalah cerita tentang peluh
Adalah hasutan
Adalah kebenaran kepalsuan
Adalah benturan
Adalah kebingungan
Adalah ragu mana jalan mana jurang
Mungkin
Jarak yang kita urai
Waktu yang kita tuai
Tak pernah membentang
Tak pernah jua matang
Perlu lebih paham mengeja bilangan
Perlu lebih sabar memeram
Atau, padahal adalah selalu mungkin…
Disempitkan sudah ruang mimpi
kami oleh waktu keberangkatan,
kami dipaksa subuh menyapa jalan,
menyapa segala kemacetan.
Ah, kotaku, berapa banyak lagi debu
menyia-nyiakan satu-dua tetes airmata?
berapa banyak lagi harus kami tabung polusi
di paru-paru yang sudah parah sakitnya?
Lalu kami berangkat,
dari satu halte ke satu halte,
dari satu peristiwa sakit ke satu peristiwa sakit lainnya.
tapi tak kunjung sampai kami pada halte terakhir atau sakit yang akhir.
ah, kami adalah pengunjung abadi dari rasa sakit ini, sakit sendiri.
Di kota ini, kami telah jadi penyembah
harapan dan janji-janji yang dijanjikan surga janji.
janji, kapan takdir kematian kami?
“hei, jangan mengeluh anak muda, mari mencari hiburan!”
begitulah suara ketegaran memanggil dalam diri kami.
mari kita nonton televisi, di mana kebohongan telah lumrah dibenarkan,
di mana segala yang kosong telah diisi penuh oleh kekosongan lagi.
Jakarta, 2012

Satu, sebagai sedikit debu
di atas sajadah tempatmu rebah
ketika subuh tiba
Dua, sebagai kelopak bunga
melayang sehelai hingga sampai
padamu begitu saja
Tiga, sebagai garis oranye
pada sore hangat yang membuat
matamu sulit terbuka
Empat, sebagai sisa gerimis
dari tempias di pinggir teras
sebelum sempat kauseka
Lima, sebagai khayalan kecil
tentang sepasang bibir yang mampir
mendaratkan doa-doa~
Maka telah kukecup keningmu
lima kali hari ini,
dari tempat yang jauh
dengan rindu sepenuhnya.